Dari South Bend Chocolate Company, kami menuju penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya. Penginapan bernama Waterford Estates Lodge (http://www.waterfordestateslodge.com/) ini berad
a di belakang penginapan yang bernama Staybridge Suites South Bend. Penginapan yang kami pilih berada di SR 933. Di sepanjang jalan ini ada banyak penginapan lain serta warung makan yang memudahkan penghuni penginapan untuk mengisi perut mereka. Dari kampus Notre Dame, penginapan kami berjarak sekitar 5 menit berkendara. Lumayan dekat kan? Dalam gambar nampak kan penginapan yang kami pilih? Seperti biasa, kami memilih penginapan yang menyediakan breakfast atau menu sarapan. Di hari Jum'at pagi, sarapan ters
edia sejak jam 6 hingga 9 pagi. Menu sarapan yang tersedia adalah menu sarapan continental: bread and jam, donuts, cereal, muffin, yogurt, fruits, jus (apple and orange), coffee dan yang seperti itu. Menu kesukaanku: scramble egg, sosis dan kentang goreng kagak tersedia hehehe ... Meski hanya menginap semalam, mama tetap memilih penginapan yang menyediakan fasilitas ini. Dua bed berukuran queen menjadi tempat kami beristirahat malam ini. Setelah seharian tidak merebahkan badan, kami merasa nyaman sekali be
rada di dalam penginapan ini. Meski terlihat tua, penginapan ini tidak nampak menyeramkan hehehe ... Dari dalam kamar kami yang berada di lantai 2, kami bisa melihat pemandangan di depan penginapan serta di sekitar penginapan. Kalau aku mau menggunakan fasilitas di penginapan ini (kolam renang dan juga gym) sebenarnya bisa saja, tetapi aku males hehehe ... Lagian, papa dan mamaku mengajakku segera bersiap untuk mencari warung makan karena perut kami sudah keroncongan lagi. Kata mama, warung makan yang a
kan kami tuju berjarak sekitar 7 menit berkendara dari tempat kami menginap. Tanpa menunggu lama, segera saja kami menuju ke kendaraan dan papa pun menset GPS dengan alamat yang dimaksud. Saat kami meninggalkan penginapan, hari terasa masih sore padahal jam sudah menunjuk angka 7 pm. Kami melewati kompleks perumahan yang tertata dengan rapi. Kondisi ini berbeda dengan yang kami lihat saat kami menuju ke pabrik coklat South Bend Chocolate Company. Ya ... Di jalan menuju warung makan yang akan kami tuju, kami merasa kerasan berada di South Bend hehehe ...
Friday, May 6, 2016
SOUTH BEND: PART IV
Kamis sore sekitar jam 3.30 PM, papaku sudah menyelesaikan acara seminar hari itu. Kami pun kemudian memutuskan keluar dari bookstore di k
ampus Notre Dame dan kemudian menuju salah satu tempat piknik yang sudah kami rencanakan untuk kami datangi. Tempat ini bernama South Bend Chocolate Company. Jauhkah lokasinya dari kampus Notre Dame? Sekitar 10 menitan berkendara. Kenapa kami memilih mendatangi tempat ini? Karena salah satu ikon kota South Bend ini adalah pabrik coklatnya ini, jadi sekalian saja kami datangi saat kami berada disini. Saat tahun 2011 kami kemari, kami belum sempat mengunjungi tempat ini. Jadi, saat ini kami sengaja datang kemari mumpung
hari masih sore dan juga kami belum pernah melihat apa yang menjadi daya tarik pabrik coklat ini. Kendaraan yang kami naiki menuju arah yang sepertinya keluar kota. Di sepanjang jalan yang kami lalui, tidak terlihat pemandangan yang istimewa. Yang ada malahan gedung berwarna coklat yang seolah sudah ditinggalkan (kondisi gedung rusak dan kaca pecah, banyak tumbuhan serupa rumput dan alang-alang di sekitar gedung, dll) dan juga perumahan penduduk yang menjadi tipikal kota besar. Kondisi di area dimana pabrik coklat ini bera
da lumayan berbeda dengan kondisi di area dimana kampus Notre Dame berada. Kami bisa merasakan perbedaan itu, namun kami tidak terpengaruh. Saat kendaraan kami sampai di lokasi,kami melihat bangunan tua yang berfungsi sebagai pabrik coklat. Bangunan ini tidak nampak besar dari luar, namun cukup banyak yang bisa kami lihat saat kami masuk ke dalamnya. Kami langsung menuju ke meja resepsionis dan bertanya apakah masih ada paket tur sore ini. Kami beruntung karena masih ada paket tur terakhir untuk sore hari ini. Kami kemudian membeli tiket seharga 4 dolar untuk masing-masing orang (karena aku sudah lebih dari 12 tahun, aku tidak lagi dianggap anak-anak). Tur dimulai tepat di jam 5 sore. Selain kami bertiga, ada lagi 3 peser
ta yang ikutan dalam tur kali ini. Tur dipandu salah satu pegawai pabrik coklat yang masih muda. Dari pemandu tur, kami mendengar cerita mengenai sejarah pengolahan coklat mentah menjadi coklat siap saji. Termasuk juga cerita mengenai bahan baku coklat yang musti diimport dari luar US karena US tidak menghasilkan bahan utama coklat (kakao) sendiri. Sambil bercerita, kami (peserta tur) dibawa ke ruang pengolahan, ruang pengepakan, ruang display dan juga museum. Dalam gambar nampak kan kira-kira seperti apa kegiatan yang ka
mi lakukan sore ini? O iya ... Peserta tur dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah untuk free tour (semua peserta baik yang membeli tiket tur maupun tidak ikut dalam free tur ini): mendengar cerita asal muasal pengolahan coklat, masuk ke ruang pengolahan, masuk ke ruang pengepakan). Sesi kedua (sesi lanjutan) hanya ditujukan untuk mereka yang membeli tiket seharga 4 dolar: membuat coklat, melihat museum dan mendapat diskon 10 persen dari total belanja di outlet South Bend Chocolate Company hari ini. Hmmm
... Lumayan menarik kan? Saat mencoba membuat coklat, kami masing-masing mendapatkan 1 sendok untuk mengambil coklat lumer dan kemudian kami perlu mendiamkannya sebentar sebelum coklat menjadi beku. Kami, peserta tur berbayar, juga mendapat sample coklat dalam kantong (masing-masing berisi 4 buah coklat). Selain itu, kami juga membeli coklat yang kebetulan tengah didiskon 75 persen. Total coklat yang sudah didiskon 75 persen masih dikurangi lagi karena ada tambahan diskon 10 persen. Wow ... Kami hepi banget tentuny
a hehehe ... Tanpa terasa, jam sudah menunjuk angka 5 lebih 30 menit. Kami pun bersiap meninggalkan South Bend Chocolate Company yang akan tutup di jam 6 sore. Kami merasa lumayan hepi karena kegiatan tur sore ini berjalan dengan lumayan menyenangkan. Melihat isi pabrik coklat yang memiliki outlet tidak hanya di State Indiana ini lumayan menambah pengetahuan kami. Selama kami tinggal di negara ini, berkunjung ke pabrik coklat South Bend menjadi kunjungan pabrik coklat kedua setelah tahun lalu kami berku
njung ke pabrik coklat Hershey di Pennsylvania. Ya ... Negara yang warganya sangat menyukai coklat ini memang memberiku satu fakta unik: meski bukan sebagai negara penghasil bahan baku coklat namun mereka mampu mengolah bahan baku import ini menjadi makanan yang mendunia dan bahkan mereka sanggup mengeksport hasil olahan coklat mereka di berbagai negara. Kalo melihat negara kita yang memiliki bahan baku coklat melimpah, sayang banget kan kalo kita tidak mampu mengolahnya? Jangankan coklat. Kopi saja mereka mengimport juga lho. Padahal kita tahu mereka memiliki kedai kopi yang dikenal luas di seluruh dunia dan menjadi brand yang sangat prestisius. Padahal mereka tidak menanam pohonnya. Ah ... Kenapa aku jadi ngelantur begini? Hehehe ...
Thursday, May 5, 2016
SOUTH BEND: PART III
Sesampainya kami di South Bend, kami langsung menuju ke kampus Notre Dame. Acara yang akan diikuti papaku selama 2 hari ini ada di kampus ini. Kendaraan diparkir di depan bookstore dan kam
i berpisah di dalam bookstore. Papaku menuju ruang seminar, aku dan mama menunggu di bookstore. Kami sengaja memilih menunggu di dalam bookstore karena cuaca yang terasa bukan lagi dingin seperti tadi pagi, melainkan panas hehehe ... Ya ... Sinar matahari yang hangat (cenderung panas) terasa di sekujur badan saat kami keluar dari kendaraan. Daripada berjalan-jalan melihat-lihat kampus di saat udara terasa panas seperti ini, kami memutuskan menunggu di bookstore yang adem hehehe ... Nampak kan salah
satu sudut ruangan di dalam bookstore yang menjadi ikon kampus ini? Bookstore di kampus Notre Dame dibangun begitu besar dan megah, nggak beda jauh dengan bangunan toko buku Barnes and Nobles. Rak buku berjejer dengan rapi disertai set meja kursi yang nyaman untuk membaca. Bookstore yang dibangun dua lantai ini juga menyediakan aneka merchandise khas Notre Dame University. Karena males berjalan-jalan, kami pun menikmati ademnya ruangan di dalam bookstore sambil membaca buku yang tersedia. Lum
ayan menyenangkan kan? Hehehe ... Berapa lama kami berada di sini? Lumayan lama-lah karena aku sempat membaca beberapa edisi Diary of A Wimpy Kid yang belum sempat kubaca. Lumayan banget kan? Hehehe ... O iya ... Pengunjung bookstore ini lumayan rame lho. Selain mahasiswa (sepertinya mengikuti summer class), ada juga rombongan peserta konferensi atau family yang datang untuk mengunjungi kampus sekaligus berbelanja aneka merchandise. Bagaimana dengan kami? Mama sempat membeli souvenir kecil yang nggak berhubungan dengan kampus Notre Dame. Lalu, apa dong yang dibeli mama? Rahasia hehehe ...
SOUTH BEND: PART II
Dalam perjalanan menuju South Bend, kami menyempatkan diri mampir untuk mengisi bensin di sebuah SPBU yang kebetulan dekat dengan warun
g makan McD dan Subway yang berada di sebuah convenience store (took kelontong). Sambil menunggu papa mengisi bensin, aku dan mama mampir untuk membeli sarapan di McD. Memangnya kami belum sarapan? Sudah sih sebenarnya, hanya saja aku pingin beli jajan aja hehehe ... Kami membeli paket sarapan yang sama untuk 3 orang berupa burrito isi telor (scramble egg) dan sosis yang dilengkapi dengan hash brown. Kebetulan Mc D yang kami datangi pagi itu berada persis di tepi highway yang kami lalui, jadi kendaraan kami nggak perlu belok terlalu jauh dari jalur utama. Selain itu, highway yang kami lalui dalam perjalanan dari Bloomington menuju South Bend ini tidaklah terlalu ramai, jadinya nggak terlalu lama juga bagi kami untuk
membeli bensin, ke kamar mandi, membeli sarapan dan kembali ke highway. O iya ... Pagi itu suhu lumayan adem, jadi kami nggak mau berlama-lama berada di luar ruang. Meski kami menyempatkan diri untuk mengambil gambar di depan warung makan yang kami datangi, kami tidak tahan berdiri berlama-lama di luar kendaraan. Kami sudah memperkirakan suhu dingin akan turun pagi ini sehingga kami memakai jaket. Namun demikian, tetap saja rasa dingin itu terasa hingga di tulang. Bahkan kami merasa berada di musim dingin saja hehehe ... Ya ... South Bend memang memiliki suhu yang lebih dingin daripada Bloomington meski keduanya berada di State Indiana. South Bend yang
berada di utara (bagian atas US) rasanya selalu lebih adem dari Bloomington yang ada di bagian bawah atau Selatan. Meski namanya South Bend, bukan berarti posisinya ada di sebelah selatan hehehe ... Anyaway ... Pagi itu kami lanjutkan perjalanan kami ke South Bend sambil nyamil sarapan yang lumayan menambah semangat kami hehehe ... Nampak kan dalam gambar apa saja yang kami beli? Yuk mari ikutan nyicipi ...
g makan McD dan Subway yang berada di sebuah convenience store (took kelontong). Sambil menunggu papa mengisi bensin, aku dan mama mampir untuk membeli sarapan di McD. Memangnya kami belum sarapan? Sudah sih sebenarnya, hanya saja aku pingin beli jajan aja hehehe ... Kami membeli paket sarapan yang sama untuk 3 orang berupa burrito isi telor (scramble egg) dan sosis yang dilengkapi dengan hash brown. Kebetulan Mc D yang kami datangi pagi itu berada persis di tepi highway yang kami lalui, jadi kendaraan kami nggak perlu belok terlalu jauh dari jalur utama. Selain itu, highway yang kami lalui dalam perjalanan dari Bloomington menuju South Bend ini tidaklah terlalu ramai, jadinya nggak terlalu lama juga bagi kami untuk
membeli bensin, ke kamar mandi, membeli sarapan dan kembali ke highway. O iya ... Pagi itu suhu lumayan adem, jadi kami nggak mau berlama-lama berada di luar ruang. Meski kami menyempatkan diri untuk mengambil gambar di depan warung makan yang kami datangi, kami tidak tahan berdiri berlama-lama di luar kendaraan. Kami sudah memperkirakan suhu dingin akan turun pagi ini sehingga kami memakai jaket. Namun demikian, tetap saja rasa dingin itu terasa hingga di tulang. Bahkan kami merasa berada di musim dingin saja hehehe ... Ya ... South Bend memang memiliki suhu yang lebih dingin daripada Bloomington meski keduanya berada di State Indiana. South Bend yang SOUTH BEND: PART I
Kamis pagi, tanggal 5 Mei tahun 2016, kami bertiga menuju South Bend Indiana. Kami berangkat dari rumah jam 8 pagi dan
perjalanan yang kami tempuh akan memakan waktu kurang lebih 3,5 hingga 4 jam. Sebetulnya papaku-lah yang memiliki keperluan di South Bend ini, namun papa mengajak kami berdua ikut serta hehehe ... Ya ... Kegiatan yang akan diikuti papaku ada di salah satu sekolah atau perguruan tinggi (Notre Dame) dan kegiatan ini akan berlangsung selama 2 hari yaitu Kamis dan Jum'at. Karena pagi masih terasa dingin dan udara memang terlihat mendung, kami mengenakan baju yang lumayan hangat. Memang betul kami sudah berada di a
khir musim semi menjelang musim panas, namun udara di sini rasanya masih belum sehangat musim panas yang sebenarnya. Beberapa hari ini hujan masih saja turun dan suhu lumayan dingin, jadi kami tidak berani mengenakan pakaian tipis dalam perjalanan kali ini. Bahkan, kami mengenakan pakaian berlapis dan jaket pagi ini hehehe ... Sepanjang jalan, kami nyaris tidak bertemu matahari sampai menjelang kami sampai di South Bend. Pemandangan berupa highway yang lumayan kosong dengan hamparan ladang jagung selepas Indianapoli
s menjadikan perjalanan pagi ini sedikit menjemukan hehehe ... Meski demikian, kami berusaha menikmati perjalan yang tidak terlalu panjang ini. Dalam gambar nampak kan kira-kira pemandangan di sepanjang jalan yang kami lalui? Nampak juga kan sepinya highway yang kami lewati? Ya ... Perjalanan pagi ini menuju South Bend merupakan perjalanan kami kedua menuju lokasi yang sama. Pada tahun 2011, kami menyempatkan mampir di kota South Bend di saat kami menuju Holland Michigan. Rute yang kami tempuh sa
at itu sedikit berbeda karena kami melewati dalam kota Kokomo. Kali ini, kami hanya melihat nama Kokomo di papan penunjuk nama kota di pinggir jalan. GPS berkali-kali meminta kendaraan memutar dan mengikuti peta yang dimilikinya. Namun kami tidak bergeming hahaha ... Kami mengikuti saja highway yang menuju ke kota South Bend. GPS mula-mula menunjukkan jalur ini, namun kemudian meminta kami memutar balik. Kira-kira sebabnya apa ya? Bisa jadi jalur yang kami lalui ini jalur baru, sehingga peta yang terekam di GPS belumlah ter-update. Akibatnya GPS tidak mengenali area
ini. Atau juga karena mendung seringkali dating, sehingga sinyal satelit tidak tertangkap oleh GPS. Karena permintaan memutar arah datang dan pergi, kami tentu saja mengabaikan permintaan GPS tersebut. Terlebih saat papan penunjuk jalan dengan jelas menyebut South Bend berjarak sekian mil lagi dari lokasi kami berkendara. Menjelang masuk South Bend, GPS tidak lagi meminta kami memutar dan mencari rute lain. Kami pun kemudian memasuki kota South Bend yang tidak terlalu besar dan mencari dimana kampus Notre Dame berada.
Sunday, May 1, 2016
CONFIRMATION DAY
Hari Minggu tanggal 1 Mei tahun 2016, aku bersama papa dan mama berangkat ke gerja di St Paul Bloomington di jam 1 siang. Hari ini akan
ada kegiatan pemberian sakramen penguatan (confirmation) kepada para peserta kelas konfirmasi yang dinyatakan lulus. Sebelum menerima sakramen konfirmasi, kami, para peserta kelas konfirmasi telah mengikuti kelas konfirmasi selama 2 tahun. Saat memulai kelas ini, usiaku menjelang 14 tahun dan saat akan menerima sakramen ini, usiaku menjelang 16 tahun. Selama 2 tahun mengikuti kelas konfirmasi, ada banyak kegiatan yang kami lakukan antara lain mengikuti pelajaran di kelas secara regular dan juga menyelesaikan bebera
pa proyek seperti community service dan juga volunteering activity. Kelas konfirmasi dijadwalkan sebulan sekali di setiap awal bulan. Sementara, proyek lain dijadwalkan misalnya menjelang natal dan juga paskah. O iya ... Kami juga mengikuti kegiatan retret dan rekoleksi. Aku mengikuti kegiatan ini sebanyak dua kali: di tahun pertama, aku ikut retret di Nashville Indiana (http://www.campranchoframasa.org/) dan di tahun kedua aku ikut retreat di Noblesville Indiana. Kedua kegiatan ini kuikuti sebagai bagian
dari program kelas konfirmasi yang yang ikuti. Setelah 2 tahun mengikuti kelas, hari ini aku dan teman-teman akan mengikuti pengukuhan di gereja sebagai bagian dari completeness program ini. Kami perlu datang 1 jam sebelum misa dimulai, karena kami perlu memastikan mengikuti kegiatan pra misa seperti: pendaftaran ulang (untuk memastikan siapa saja yang datang hari ini), pengambilan gambar bersama, pengaturan tempat duduk dan seterusnya. Dalam acara gladi bersih kemarin siang (Sabtu), aku tidak
bisa datang karena ada kegiatan di sekolah yang tidak bias kutinggalkan (perlombaan biola antar tim/beregu). Tentu aku sudah meminta ijin kepada coordinator kegiatan ini bahwa aku tidak bias datang saat gladi bersih. Na ... Hari Minggu ini, aku perlu memastikan kehadiranku pada coordinator demi kelancaran acara. Kegiatan pra misa berlangsung dengan lumayan cepat dan lancer. Sebagai informasi, kami beruntung tidak harus pergi ke gereja lain karena tahun lalu kegiatan confirmation mass diadakan di Ell
etsville. Kok gitu? Iya ... Karena misa untuk peserta kelas konfirmasi memang tidak hanya diperuntukkan peserta dari gereja St Paul saja, melainkan dari beberapa gereja yang dekat dengan Bloomington seperti gereja di Martinsville, gereja di Nashville, gereja di Bedford dan seterusnya. Karenanya, peserta konfirmasi pun lumayan banyak jumlahnya. Dan karena venue acara sore ini diadakan di St Paul, peserta konfirmasi dari gereja lain pun yang kemudian datang kemari. Setelah semua kegiatan pra misa selesai dilaku
kan, misa dimulai di jam 2 tepat. Kami para peserta kelas konfirmasi duduk bersama sponsor kami masing-masing. Siapakah itu sponsor? Mereka yang ditunjuk oleh peserta konfirmasi (seperti aku) yang akan menjadi pendamping sejak kami memulai kelas hingga kami menerima sakramen konfirmasi hari ini. Siapa sponsorku? Sabrina Gordon. Siapa dia? Sabrina adalah pengajar kelas konfirmasi. Kok bisa aku memilih Sabrina? Bisa saja. Syarat pendamping atau sponsor adalah mereka yang sudah menerima sakramen konfirmasi dan mau menjadi pendamping mereka yang dimentori. Kalau bisa, jangan memilih pendamping dari kalangan keluarga
sendiri (misalnya orang tuanya, kakaknya, tante atau om-nya, kakek atau nenek-nya, sepupunya, dan seterusny). Kalau nggak bias ya nggak apa apa ... Awalnya aku tidak disponsori Sabrina namun saat aku meminta Sabrina menjadi pendampingku, dia menyetujuinya. Tentu aku merasa senang sekali karena aku di-sponsori Sabrina yang kukenal dan mengenalku. Karenanya, saat acara pemanggilan peserta konfirmasi ke depan altar, Sabrina maju bersamaku dan Sabrina menyaksikanku menerima berkat dari Uskup sebagai
bukti aku telah menerima sakramen konfirmasi. Misa yang berlangsung lebih lama dari biasanya ini kemudian diakhiri di jam 3.30 sore. Resepsi di dining hall gereja di basement diadakan setelah misa usai. Menu resepsi berupa cookies dan air lemon merupakan bagian dari potluck yang kami lakukan siang ini. Aku membawa 2 dozen cookies yang kemudian kukumpulkan kepada panitia sebelum acara berlangsung. Kemeriahan dan kegembiraan di ruang dining terasa sebagai bukti syukur atas diterimakannya sakr
amen konfirmasi. Bersama dengan teman-teman, aku menikmati cookies dan air lemon yang tersedia melimpah. O ya ... Kami juga menerima gift dalam sebuah goody bag yang ternyata berisi Kitab Suci. Goody bag ini diberikan kepada semua peserta kelas konfirmasi yang datang siang hari ini. Kira-kira jam 4 kurang sedikit, papa dan mama mengajak aku menyudahi acara ini. Papa ada acara lain di jam 4 sore dan papa tidak mau terlambat datang terlalu lama di acara ini. Segera saja kami pamitan pada Sabrina yang siang itu
terlihat sibuk berjalan kesana kemari. Tak lupa, aku memberikan gift kepada Sabrina sebagai tanda terima kasih atas kesediannya menjadi sponsorku siang hari ini. Gift yang dipilihkan kedua orangtuaku ini kuharap bisa membuat Sabrina sedikit bergembira. Thanks for everything Sabrina. Now I'm confirmed. I do hope to become more mature and more responsible for all the things I will do.
Saturday, April 23, 2016
KE MANDALAY LAGI
Sabtu sore, tanggal 23 April 2016, mama janjian ketemu tante Fitri dan tante Sonia untuk ketemuan sambil dinner di salah satu warung makan. Karena ada acara lain di sore hari ini juga, mereka
bertiga sepakat untuk tidak banyak menghabiskan waktu sore ini di warung makan tersebut agar bisa dating di acara yang lain tersebut. Kata mama, awalnya mereka mampir di warung makan Rush Hours namun ternyata warung makan ini tutup di jam 6 sore. Mereka bertiga sampai di warung makan sekitar 10 menit sebelum warung makan itu tutup. Mereka pun kemudian memutuskan pindah ke warung makan yang ada di jalan ke-4 dan mereka memilih mampir di warung makan Mandalay. Warung makan ini berada di kompleks warung makan internsional yang berada di jalan keempat. Persis di depan warung makan Mandalay, toko yang dimiliki tante Sonia dapat kita lihat. Saat mereka bertiga masuk ke warung makan ini, mereka dipersilahkan memilih meja dan kursi yang masih kosong. Mereka memilih
salah satu spot dan mulai memesan makanan yang ada di buku menu. Mama sudah pernah kemari sebelumnya. Kapan itu? 4 atau 3 tahun yang lalu hehehe ... Lalu, apa yang dipesan? Karena menu yang ditawarkan nyaris mirip dengan menu Thailand (namun ada menu Pho-nya juga yang merupakan menu khas Negara Vietnam), yang tertera di buku menu antara lain: nasi goreng, mie goreng, aneka stir fried (oseng-oseng) dan menu vegetarian. Mama memilih pho tetapi kali ini dengan isian daging ayam. Kalo biasanya pho dikenal dengan isian daging sapinya, kali ini mama mencoba rasa lain. Tante Fitri dan tante Sonia memilih menu yang sama, oseng-oseng lele yang dibumbui asam manis (lele dipotong kecil kemudian digoreng dengan tepung). Ada tambahan nasi untuk menu yang d
ipilih tante Fitri dan tante Sonia. Dalam gambar nampak akan apa yang mereka pilih sore itu? O iya ... Tante Fitri juga memesan es kopi (kopi yang dituang di atas susu kental manis terus ditambahi es batu). Komplit sudah apa yang mereka pesan sore itu. Karena porsinya besar, otomatis nggak semuanya bisa dihabiskan sore itu. Mama hanya menghabiskan seperempat menu saja karena masih kenyang. Makan siang kami (salmon goreng, oseng-oseng taoge dan tahu serta dessert marble cake) baru saja kami nikmati 2 jam sebelum mama keluar rumah. Bagi mama, kumpul itulah yang penting. Yang tersaji atau mau disantap, itu nomor dua. Ya ... Dah lumayan lama juga mereka bertiga nggak ketemuan. Makanya, waktu mama
dikabari mau diajak ketemuan, mama siap banget hehehe ... Meski nggak lama berada di warung makan ini, mama dan tante Sonia serta tante Fitri sudah lumayan happy karena bisa ketemuan ... Sesudah menyelesaikan dinner mereka, mereka bertiga keluar dari warung makan ini. Ngomong-ngomong, menu dinnerku dan papa apa dong? Menu special ... Maksudnya apa ini? Kebetulan banget hari ini ada acara Indonesian Night di Wilkie Auditorium ... Biasanya akan ada free food dengan menu Indonesia ... Hmmm ... Bakalan yummy ini hehehe ... Makanya, menu dinner kami nggak kalah sama menu dinner mama ... Karena mama cuma memilih mie rebus, sementara kami akan nyamil rendang, sate, oseng kangkung dan yang lainnya ...
bertiga sepakat untuk tidak banyak menghabiskan waktu sore ini di warung makan tersebut agar bisa dating di acara yang lain tersebut. Kata mama, awalnya mereka mampir di warung makan Rush Hours namun ternyata warung makan ini tutup di jam 6 sore. Mereka bertiga sampai di warung makan sekitar 10 menit sebelum warung makan itu tutup. Mereka pun kemudian memutuskan pindah ke warung makan yang ada di jalan ke-4 dan mereka memilih mampir di warung makan Mandalay. Warung makan ini berada di kompleks warung makan internsional yang berada di jalan keempat. Persis di depan warung makan Mandalay, toko yang dimiliki tante Sonia dapat kita lihat. Saat mereka bertiga masuk ke warung makan ini, mereka dipersilahkan memilih meja dan kursi yang masih kosong. Mereka memilih
salah satu spot dan mulai memesan makanan yang ada di buku menu. Mama sudah pernah kemari sebelumnya. Kapan itu? 4 atau 3 tahun yang lalu hehehe ... Lalu, apa yang dipesan? Karena menu yang ditawarkan nyaris mirip dengan menu Thailand (namun ada menu Pho-nya juga yang merupakan menu khas Negara Vietnam), yang tertera di buku menu antara lain: nasi goreng, mie goreng, aneka stir fried (oseng-oseng) dan menu vegetarian. Mama memilih pho tetapi kali ini dengan isian daging ayam. Kalo biasanya pho dikenal dengan isian daging sapinya, kali ini mama mencoba rasa lain. Tante Fitri dan tante Sonia memilih menu yang sama, oseng-oseng lele yang dibumbui asam manis (lele dipotong kecil kemudian digoreng dengan tepung). Ada tambahan nasi untuk menu yang d
ipilih tante Fitri dan tante Sonia. Dalam gambar nampak akan apa yang mereka pilih sore itu? O iya ... Tante Fitri juga memesan es kopi (kopi yang dituang di atas susu kental manis terus ditambahi es batu). Komplit sudah apa yang mereka pesan sore itu. Karena porsinya besar, otomatis nggak semuanya bisa dihabiskan sore itu. Mama hanya menghabiskan seperempat menu saja karena masih kenyang. Makan siang kami (salmon goreng, oseng-oseng taoge dan tahu serta dessert marble cake) baru saja kami nikmati 2 jam sebelum mama keluar rumah. Bagi mama, kumpul itulah yang penting. Yang tersaji atau mau disantap, itu nomor dua. Ya ... Dah lumayan lama juga mereka bertiga nggak ketemuan. Makanya, waktu mama
dikabari mau diajak ketemuan, mama siap banget hehehe ... Meski nggak lama berada di warung makan ini, mama dan tante Sonia serta tante Fitri sudah lumayan happy karena bisa ketemuan ... Sesudah menyelesaikan dinner mereka, mereka bertiga keluar dari warung makan ini. Ngomong-ngomong, menu dinnerku dan papa apa dong? Menu special ... Maksudnya apa ini? Kebetulan banget hari ini ada acara Indonesian Night di Wilkie Auditorium ... Biasanya akan ada free food dengan menu Indonesia ... Hmmm ... Bakalan yummy ini hehehe ... Makanya, menu dinner kami nggak kalah sama menu dinner mama ... Karena mama cuma memilih mie rebus, sementara kami akan nyamil rendang, sate, oseng kangkung dan yang lainnya ...
Subscribe to:
Posts (Atom)