Saturday, January 31, 2015

PEYEK KACANG

Mama dan papa penasaran dengan peyek kacang. Beberapa kali papa dan mama berniat mencoba membuatnya, namun selalu saja tertunda. Sampai kemudian mama dan papa memutuskan membuat sendiri peyek kacang yang membuat mereka penasaran hehehe ... Apa saja bahan-bahannya? Bumbu yang diperlukan adalah bawang putih, ketumbar, kemiri, garam dan juga daun jeruk. Tepung yang digunakan adalah tepung beras. Isian peyek bisa berupa kacang tanah ataupun teri. Tentu kacang tanah yang dimaksud adalah kacang tanah mentah yang sudah dikupas dan kemudian dipotong sesuai selera.  Jangan lupa, 1 butir telor juga disiapkan. Bagaimana cara membuatnya? Bawang putih, ketumbar, kemiri dan garam digiling. Bumbu yang sudah tercampur ini ditambahkan dengan telor satu butih sebelum ditambah tepung beras dan air. Pastikan bumbu dan tepung bercampur dengan sempurna. Sesuda itu masukkan irisan kacang tanah dan irisan daun jeruk. Tak lupa, adonan yang siap digoreng ini harus sangat encer. Sesudah adonan siap goreng, panaskan minyak di penggorengan. Tunggu sampai minyak betul-betul mendidih sebelum adonan dimasukkan ke dalam penggorengan. Disinilah kesulitan menggoreng peyek. Kalau api besar (minyak panas), adonan cepat matang tetapi seringkali kacang masih belum matang. Sebaliknya, kalau api diset berukuran sedang dan minyak tidak panas sekali, kacang mungkin akan matang dengan sempurna tetapi hasil akhirnya peyek akan sangat berminyak. Wow ... Musti hati-hati nih ternyata saat menggoreng peyek. Bagaimana hasil akhir peyek buatan orangtuaku? Nggak terlalu mengecewakan-lah untuk ukuran pemula hahaha ...  

Saturday, January 24, 2015

ULTAH: LONG HORN STEAK HOUSE

Papaku berulang tahun di tanggal 23 Januari. Tentu hari istimewa ini kami rayakan. Hanya saja, kami merayakannya di hari Sabtu, bukan di hari Jum'at di tanggal 23 Januari. Kenapa? Agar kami lebih leluasa dari sisi waktu di saat kami merayakan hari jadi papaku. Kali ini kami memilih bersantap siang bersama di salah satu warung makan yang ada di dekat rumah. Kami sengaja memilih warung makan yang menyediakan menu irisan daging panggang (steak) karena mama ingin membujuk papa biar mau mencicipi daging panggang yang dimasak medium. Maksudnya apa nih? Begini ... Papaku kan tidak terlalu suka memesan menu daging sapi panggang seperti itu. Papa sangat tidak menikmati potongan daging berbetuk bulat atau lonjong yang disajikan di piring dengan side dish seperti sayur (salad) dan kentang/ketela/jagung. Apalagi, steak dimasak dengan model pengolahan medium (ada warna pink di dalam daging). Papaku sangat tidak menikmati menu seperti itu. Namun, mamaku mengatakan padaku dan papa, di negara ini, salah satu jenis makanan yang bisa dicicipi adalah daging panggang ini. Kenapa begitu? Karena daging yang diolah dan disajikan memiliki kualitas yang OK. Di tanah air, kita mungkin bisa mendapatkan menu sejenis (steak), namun, harga per porsinya bisa mahal sekali atau kalau mau steak berharga sedikit murah, kualitas yang didapat (mungkin) bukanlah yang nomor satu. Disini, semua makanan rasanya bisa dibeli siapa saja; termasuk steak yang memiliki kualitas OK bisa dibeli siapa saja. Di tanah air, sepertinya masih ada yang berbeda. Meski olahan steak bisa sama dengan yang dijumpai disini, mungkin karena kepiawaian chefnya turut menjadi faktor yang menyebabkan bahan baku standar menghasilkan produk yang OK. Intinya, mama menyarankan pada papa untuk mau mencicipi steak yang dimasak medium hahaha ... Kenapa nggak yang well done aja? Karena model pengolahan well done akan menghasilkan daging yang liat/alot hehehe ... Kok  bisa begitu? Iya ... Karena well done akan menghasilkan daging matang tanpa ada warna pink di dalamnya dan tidak terlihat juicy. Lalu, apakah papa setuju memilih menu yang disarankan mama? Ya ... Di Sabtu siang itu kami bertiga menuju Long Horn Steak House di dekat rumah. Kami datang di jam 11.30 siang (warung makan ini buka di jam 11 siang). Baru sekali ini kami kemari. Namun, kami tahu, model warung makan ini akan sama dengan warung makan lain. Saat kami sampai di depan meja resepsionis, petugas menghantar kami ke meja dan kursi kosong yang tersedia. Warung makan ini masih nampak sepi, karena mereka baru saja memulai bisnisnya di jam 11. Kami menuju area dining room luas yang berbentuk kubikal dan menempati salah satu spot yang lumayan nyaman. Hiasan berupa patung kepala deer/rusa nampak ada di beberapa bagian. Kami kemudian mempelajari buku menu yang mereka berikan. Dari rumah, kami sudah mempersiapkan diri akan memesan apa (kami sudah melihat website warung makan ini http://www.longhornsteakhouse.com/menu-listing/dinner). Saat petugas lain datang dan menanyakan pilihan kami, kami mengawali memesan minum dan appetizer terlebih dahulu. Aku memilih es teh manis, mama memesan air soda dan papa memesan air putih ditambah es. Untuk appetizer, kami memilih menu best of longhorn sampler (piring makanan pembuka berisi beberapa menu contoh/sampler: jamur isi, udang goreng dan cacahan daging ayam dibungkus mirip lumpia plus salad sayur. Selain itu, warung makan ini juga menyediakan honey bread yang disajikan secara gratis sebagai camilan. Lalu, menu utama yang kami pesan adalah burger dengan side dish kentang dan sup (untukku), tujuh potong daging sapi panggang (medium) yang diletakkan di atas salad sayur dengan tambahan kentang dan juga sup (untuk papaku), serta steak (dimasak medium) dengan side dish brokoli rebus untuk mama. Mau lihat seperti apa penampilan menu ini di dalam piring? Silahkan lihat gambar yang diposting. Kami menikmati pesanan ini dengan hapi dan tentunya dengan penuh syukur. Semua terasa enak hehehe ... Ulang tahun papa kembali kami rayakan di negara ini di tahun 2015. Ini adalah perayaan kelima kalinya di negara ini. Semoga papaku diberikan kesehatan dan umur panjang, kebahagiaan serta kelancaran dalam menjalankan semua kewajibannya. Happy birthday pa ... Wish you all the best ... 

Tuesday, January 13, 2015

PISANG DAN UBI GORENG

Menggoreng pisang sudah pernah dilakukan mamaku. Yang belum adalah menggoreng ubi. Kata mama, ubi bisa ditemukan di grocery store (utamanya Asian Store) dengan harga yang sedang (tidak murah). Meski demikian, ubi tidak selalu tersedia di grocery store. Na ... Pas mama nemu uni tersebut, mama segera saja membelinya dan berniat mencoba membuat ubi goreng. Ubi hanya perlu dipotong-potong, dikupas kulitnya, dicuci dan kemudian direbus. Tak perlu lama untuk merebus ubi tersebut karena ubi akan digoreng. Kenapa mama perlu merebus ubi tersebut sebelum digoreng? Agar saat dimakan ubi tidak terasa keras hehehe ... Yang perlu diperhatikan, jangan merebus ubi hingga terlalu matang karena ubi yang terlalu matang bisa hancur saat digoreng. Ini dia hasil ubi goreng yang disiapkan mamaku. Awalnya, aku tidak terlalu suka dengan ubi goreng ini. Lama-lama, aku menghabiskan banyak potongan ubi goreng hehehe ... Selama kami tinggal disini, perasaan baru kali ini kami menikmati ubi goreng buatan mama. Gak heran kalo kami merasakan ubi goreng ini sebagai makanan istimewa hahaha ... Ubi goreng dan pisang goreng ini juga menjadi salah satu camilan yang mama bawa saat ada acara tahun baru bersama di rumah salah satu teman. Kata mama, menemukan bahan makanan khas tanah air memang sangatlah menyenangkan. Ubi yang dalam keseharian kami umum dijumpai dimana saja dan bisa diolah menjadi apa saja, terasa istimewa saat kami meraciknya di negara ini ... Yang tertarik, mari silahkan cicipi ubi goreng yang tersaji di dalam tray ini hehehe ...

Thursday, January 8, 2015

STRING SPECTACULAR 1-8-2015

Kamis malam, tanggal 8 Januari tahun 2015, aku mengikuti konser bertema String Spectacular yang diadakan untuk peserta kelas alat musik gesek. Konser tahunan yang diadakan rutin setahun sekali di setiap bulan Januari, tepatnya minggu pertama setelah kami masuk kelas, merupakan salah satu konser akbar untuk peserta kelas string. Konser di tahun ini merupakan konser kelima yang kuikuti. Wow ... Konser kelima? Ya ... Tak terasa, sudah 5 tahun aku bergabung di kelas alat musik gesek (sejak beginner hingga sekarang). Dalam konser kali ini, selain grup siswa SMA, siswa peserta kelas string beginner (kelas 5), continuing (kelas 6) dan middle school (kelas 7 dan 8) juga hadir. Ada lebih dari 500 siswa tampil malam ini. Terbayang kan betapa ramainya? Gym (ruang olahraga) di SMA tempat aku bersekolah pun menjadi penuh. Orangtua dan keluarga serta teman peserta konser datang dan memberikan dukungan pada para siswa. Aku bersama kedua orangtuaku datang sedikit lebih awal karena papa dan mamaku juga mendaftarkan diri untuk menjadi panitia sukarelawan sore ini. Panitia ini akan bertugas sebelum, saat dan sesudah konser. Dalam acara yang dirancang, setelah konser selesai akan ada acara resepsi (menikmati cookies) bersama. Cookies tersebut didapatkan dari donasi para orangtua peserta kelas string di tingkat SMA. Tentu aku termasuk di dalamnya. Kalau sebelumnya aku hanya mengikuti konser dan mengikuti resepsi, kali ini aku mendonasikan 2 plastik cookies yang kami serahkan kepada panitia sebelum konser dimulai. Ya ... Dalam edaran kepada orangtua peserta konser kelas SMA, koordinator (Bu Jane G) meminta para orangtua siswa mendonasikan cookies. Selain itu, para orangtua diminta berpartisipasi dalam kepanitiaan kecil. Papa dan mama mendaftar sebegai anggota panitia bersih-bersih yang akan bertugas setelah konser dan resepsi selesai. Orang tua lain ada yang memilih menjadi tim penerima cookies dan mempersiapkan resepsi atau menjadi anggota panitia yang bertugas menyajikan dan memastikan kelancaran resepsi. Kegiatan orangtua sebagai volunteer ini memberiku credit (nilai) yang bisa kutambahkan di credit yang sudah kuperoleh sebagai peserta kelas string. Ya ... Semakin banyak credit yang kuperoleh, semakin banyak tabunganku di kelas string ini hehehe ... Lalu, bagaimanakah acara konser ini berlangsung? Semua berjalan lancar dan baik. Semua lagu yang dibawakan oleh masing-masing grup mendapatkan sambutan yang meriah dari penonton konser. Sudah pasti kami bangga dengan usaha kami selama ini yang ternyata mendapatkan apresiasi dari orangtua, saudara dan juga teman-teman kami. Sesudah acara selesai, kami menuju ke hallway di depan gym dan menikmati ccokies serta minuman dingin yang disediakan para orangtua siswa SMA. Aneka cookies yang tersedia membuat kami ingin mencicipi semuanya hehehe ... Sesudah acara resepsi selesai, aku menunggu papa dan mamaku membantu panitia membersihkan dan membereskan perlengkapan resepsi yang baru saja digunakan. Kira-kira jam 10 malam, kami bertiga sudah berada di parking lot dan siap pulang ke rumah. Hawa dingin membuat kami gak betah lama-lama berada di luar hehehe ...

Friday, December 26, 2014

CHRISTMAS HOLIDAY: MAMPIR WARUNG KOPI

Yang ini dilakukan karena kami merasa sudah lumayan lama berjalan-jalan di sekitar monument circle alias kami merasa punya alasan cukup untuk membeli satu gelas kopi di warung kopi ini. Persis di sekitar monument circle berdiri beberapa warung makan yang bisa kami datangi. Ada satu warung yang bernama South Bend Chocolate Company yang pernah kami datangi. Warung atau kedai coklat ini menjadi salah satu yang spesial atau sebut saja ikon state/propinsi Indiana. South Bend merupakan salah satu kabupaten yang ada di Indiana ini. Perusahaan coklat yang berdiri disini pada awalnya kemudian berkembang menjadi ikon state Indiana ini. Karena merupakan produk lokal, harga jual produk South Bend Chocolate Company menjadi sedikit lebih mahal dibanding coklat sejenis. Na ... Karena kami sudah pernah mendatangi kedai ini, hari ini kami sengaja memilih kedai lain yang ada di monument circle. Kedai ini merupakan salah satu kedai chain/jaringan yang mudah ditemukan dimana saja. Kami memasuki kedai dan mengantri bersama pengunjung lain. Ada 3 gelas kopi yang kami pesan. Tak lama menunggu, pesanan kami sampai dimeja (bukan karena diantar petugas, melainkan karena papa mengambilnya di counter setelah petugas memanggilnya). Gelas kopi yang kami terima memiliki warna khas yaitu warna merah. Ya ... Warna yang melambangkan hari natal ini memang menjadi salah satu warna wadah makan yang lazim ditemukan di berbagai tempat. Sambil menikmati kopi kami, kami duduk memandang monument circle yang persis berada di depan kami. Monument tinggi besar ini menjulang dalam diam. Lalu lalang orang berjalan, homeless yang menunggu belas kasih orang dengan merenda, kendaraan yang melaju pelan dan aneka kegiatan lainnya membawa kami bertiga dalam diam. Selama sekitar 15 menit berada di dalam kedai ini kami kemudian memutuskan untuk menyudahi rehat sejenak dan melanjutkan acara jalan-jalan di sekitar downtown. Jam sudah menunjuk angka 2. Kami berencana untuk mengunjungi satu tempat lagi yang berjarak sekitar 15 menit berkendara dari kota Indy ini. Karena itu, kami segera menyusuri sidewalk di downtown Indy yang mengarah ke penginapan dan meneruskan perjalanan liburan kami selanjutnya ...

CHRISTMAS HOLIDAY: AROUND MONUMENT CIRCLE

Setelah check out dari penginapan, kami masih melanjutkan acara jalan-jalan kami di kota Indy. Mama mengatakan pada kami, kami punya waktu 2 sampai 3 jam untuk menikmati kota Indy sebelum kami kembali ke Bloomington. Mama juga meminta papa untuk memarkir kendaraan di parking garage penginapan (yang tentunya sudah ditanyakan boleh dan nggaknya ke petugas penginapan) dan kami akan berjalan kaki saja selama kami berjalan-jalan. Ya ... Namanya juga berjalan-jalan masak naik kendaraan hehehe ... Setelah semua tas kami masukkan ke dalam bagasi, kami kemudian menuju ke lobby dan memulai acara jalan-jalan siang di kota Indy. Sekitar 5 menit berjalan, kami sudah sampai di pusat kota. Kami tentu saja mengambil lumayan banyak gambar selama kami berjalan-jalan, sampai salah seorang warga bertanya pada kami, darimana asal kami. Saat kami menjawab dari Bloomington, dia lumayan heran karena mungkin dia mengira kami berasal dari luar state (melihat kami begitu bersemangat mengambil gambar hahaha ...). Selain berjalan-jalan, kami juga memasuki salah satu gedung perniagaan yang disebut sebagai Circle Center. Kami masuk ke dalam pusat niaga ini demi menghangatkan badan hehehe ... Kami melihat-lihat saja kesibukan para pengunjung di berbagai outlet di dalam gedung ini. Hari ini, tanggal 26 Desember, merupakan hari biasa dimana orang kembali berkegiatan setelah menikmati libur natal di hari sebelumnya. Kesibukan terasa sekali di hari ini dibandingkan dengan kemarin. Kalau kemarin kami berkeliling downtown Indy hanya ditemani kesunyian, hari ini kami berteman dengan keriuhan. Pengunjung banyak menyerbu berbagai outlet persis setelah hari natal karena mereka perlu menukarkan kado natal yang berbentuk gift card dibelanjakan item barang sesuai kebutuhan; atau menukarkan item barang yang menjadi kado natal karena tidak sesuai dengan kebutuhan (size terlalu besar atau kecil, warna yang tidak pas dan seterusnya). Jangan heran, di negara ini mengembalikan barang diperbolehkan sepanjang ada notanya dan juga item barangnya masih utuh (nggak rusak, sobek, ternoda, pecah dan seterusnya). Trust atau kepercayaan adalah hal yang sangat diutamakan di negara ini. Lalu, apakah yang kami lakukan di dalam pusat perniagaan ini? Kami masuk ke salah satu outlet yang menjual aneka pernak-pernik khas Indiana dan mama membeli magnet kulkas berbentuk propinsi/lanskap tanah Indiana. Kata mama, baru kali ini mama menemukan magnet khas state ini hehehe ... Ya ... Salah satu yang dikoleksi mamaku adalah magnet kulkas. Menurut mama, magnet kulkas ini cukup bermanfaat mengingatkan kami lokasi mana saja yang pernah kami singgahi. Selain itu, magnet ini juga memiliki ukuran yang kecil, mudah ditempel dan memiliki disain yang bagus. Setelah merasa cukup melihat keriuhan di dalam pusat perniagaan ini, kami kemudian menuju ke salah satu lokasi ikonik di state ini, Monument Circle. Menurut wikipedia, monument ini disebut juga sebagai Soldiers' and Sailors' Monument dan diterangkan sebagai berikut: The Indiana State Soldiers and Sailors Monument is a 284 ft 6 in (86.72 m) neoclassical monument built on Monument Circle, a circular, brick-paved street that intersects Meridian and Market streets in the center of downtown Indianapolis, Indiana. The monument is the first in the United States to be dedicated to the common soldier. It is also the largest outdoor memorial and the largest of its kind in Indiana. It was designed by German architect Bruno Schmitz and built over a thirteen-year period, between 1888 and 1901. The monument's original purpose was to honor Hoosiers who were veterans of the American Civil War; however, it is also a tribute to Indiana's soldiers who served during the American Revolutionary War, territorial conflicts that partially led to the War of 1812, the Mexican-American War, and the Spanish-American War. In the years since its public dedication on May 15, 1902, the monument has become an iconic symbol of Indianapolis, the state capital of Indiana. It was added to the National Register of Historic Places on February 13, 1973. The obelisk-shaped monument is built of oolitic limestone from Owen County, Indiana. It rests on a raised foundation surrounded by pools and fountains. Broad stone steps on its north and south sides lead to two terraces at its base. Stone tablets above the bronze entrance doors on the obelisk's north and south sides bear inscriptions commemorating Indiana's soldiers. An inscription above the tablets reads: "To Indiana’s Silent Victors." An observation deck is accessible by stairs or elevator from the interior. In addition to its commemorative statuary and fountains, made primarily of oolitic limestone and bronze, the basement of the monument contains the Colonel Eli Lilly Civil War Museum, a museum of Indiana history during the American Civil War. At the time of the monument's dedication in 1902, its cost was $598,318. It has been estimated that construction of a similar structure in 2014 would exceed $500 million. The memorial includes several notable outdoor sculptures, including Rudolph Schwarz's two massive limestone groupings of War and Peace, two smaller scenes named The Dying Soldier and The Return Home, and four military figures at its base. Three astragals, one by Nikolaus (Nicolaus) Geiger and two others by George T. Brewster, surround the stone obelisk. Additional sculptures include John H. Mahoney's bronze statues of George Rogers Clark, William Henry Harrison, and James Whitcomb, and Franklin Simmons's bronze statue of Oliver P. Morton. Brewster's 30-foot (9.1 m) bronze statue of Victory crowns the obelisk. The Indianapolis monument is approximately 15 feet (4.6 m) shorter than New York City’s 305-foot (93 m) Statue of Liberty. Wow ... Penjelasan ini cukup detil menurutku. Kami juga mencermati bahwa suasana natal terasa di monument circle ini dengan asesories yang dipasang disini. Saat malam tiba, monument circle menjelma menjadi pohon terang karena lampu-lampu yang dipasang disitu. Kata mama, mirip dengan giant chritsmas tree. Sesudah mengitari monument circle dan mengambil gambar disitu, kami memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah kedai kopi yang berlokasi persis di pojokan jalan. Kami memang sudah berjalan kaki selama sekitar 90 menit sebelum kami memutuskan mampir di kedai kopi ini. Meski kami membawa bekal, kami tetap ingin mampir ke kedai kopi tersebut hehehe ... Itung-itung sambil sebentar beritirahat (duduk) sebelum kami melanjutkan acara jalan-jalan hari ini ...

CHRISTMAS HOLIDAY: AROUND INDIANA STATE MUSEUM

Dari NCAA, kami melanjutkan acara jalan-jalan siang ini ke Indiana State Museum (ISM) yang terletak bersebelahan dengan kompleks NCAA. Kedua gedung ini dipisahkan dengan sungai yang jelas tertata dan sangat bersih. Kali ini mengalirkan airnya dengan tenang dan membelah 2 kompleks ini menjadi 2 area yang seolah terpisah. Sengaja kami menyusuri kali ini dan tentunya mengambil banyak gambar disini. Kami merasa senang karena kami merasakan cuaca hari ini benar-benar bersahabat dengan kami. Pancaran sinar matahari seolah memberikan kami energi lebih di saat kami menikmati acara susur kali siang ini hehehe ... Indiana State Museum merupakan salah satu ikon di kota Indi. Beberapa minggu yang lalu, kami mengunjungi tempat ini. Kami tentu senang bisa datang kembali kemari dan melihat bagian lain yang belum sempat kami cermati waktu itu. Kami sengaja mengambil rute bukan dari depan museum, melainkan dari samping dan belakang museum. Bersama kami, ada banyak warga atau pengunjung lain yang juga berjalan-jalan di sekitar kali tersebut. Sama dengan NCAA, ISM juag merupakan kebanggaan warga Indy. Karenanya, sangat pas lokasi ini letaknya berdekatan dan bisa dijangkau hanya dengan menaiki jembatan. Saat kami sampai di bagian belakang museum ini, kami melihat ada 2 patung gajah yang sepertinya merupakan salah satu koleksi museum ini. Kedua patung gajah ini bisa juga dilihat dari dalam museum (aku ingat, saat kami berada di dalam museum, kami melihat kedua patung gajah ini). Di dekat patung, aku juga melihat ada mesin yang kalau diputar-putar bisa mengeluarkan suara seperti suara binatang hehehe ... Sambil terus menyusuri kali, aku dan mama juga menyempatkan mengambil gambar di dekat kali dengan latar belakang gedung-gedung tinggi di kejauhan. Melihat gedung tinggi yang seolah dekat dengan air, aku jadi ingat pengalaman yang sama saat berkunjung ke Chicago, New York, Madison, Louisville, Grand Rapid dan sebagainya. Kota yang terdiri atas bangunan tinggi seolah menjadi satu dengan kali yang membelah tengah kota. Kata mama, jembatan Gondolayu yang ada di Jogja sepertinya memiliki kondisi yang tidak berbeda dengan kota-kota yang kami kunjungi tersebut karena kalinya membelah kota. Sayangnya, kali yang melewati kota Jogja belum memiliki sidewalk yang bisa dipakai jogging, bersepeda atau berjalan kaki. Kalaupun ada, belum seteratur yang kulihat di negara ini. Nggak papa ... Siapa tahu kali yang ada di tanah air (yang mengalir di tengah kota) akan menjadi seperti yang kami lihat disini. Kali akan menjadi bersih dan memiliki fungsi sebagai sarana rekreasi dan bukan sebagai tempat untuk membuang sampah. Tentu ini bisa terealisir kalau koordinasi warga sepanjang kali dan pemerintah berjalan baik. Wuih ... Aku kok jadi serius gini? Hehehe ... Kalau aku nggak salah, sidewalk yang ada di sepanjang kali ini memiliki rute yang lumayan panjang. Karenanya, kami merencanakan untuk berjalan-jalan di area ini saat udara sudah menghangat (spring atau summer). Pingin sekali melihat pemandangan di sekitar kali atau mungkin sambil naik kano (kudengar kano bisa disewa dan aku bisa berkano di saat musim panas). Membayangkannya saja sudah asyik banget hehehe ... O ya ... Ada beberapa bangku yang juga diletakkan di sepanjang kali ini. Bangku terbuat dari besi ini lumayan nyaman dipakai untuk beristirahat. Hanya saja, kami nggak berlama-lama berada disitu karena udara masih tetep terasa adem hehehe ... Nampak juga kan betapa kali terlihat bersih dan membuat hati damai? Ya ... Berada di pinggir kali memang membuat hati menjadi tenang karena memandang aliran kali terasa sangat menentramkan. Setelah merasa puas berjalan-jalan di sekiatr kali, kami kemudian menuju penginapan dan memilih masuk museum (lantai ground yang berdekatan dengan kali berupa lobby) dan menuju ke lantai 1 untuk keluar dari gedung museum ini. Kami memang perlu mengemasi barang-barang bawaan kami di penginapan dan chcek out dari penginapan di jam 12 siang. Pagi tadi mama sudah memberekan semua tas yang akan kami masukkan ke dalam kendaraan. Tas berisi pakaian sudah dimasukkan ke dalam kendaraan. Yang masih ada di dalam kamar kami adalah tas untuk peralatan elektronik karena kata mama, lebih aman menyimpan aneka barang elektronik di dalam penginapan daripada ditinggal di bagasi kendaraan. Sesuai dengan rencana kami, hari ini Jum'at tanggal 26 Desember tahun 2014, kami memang akan mendatangi NCAA dan berkeliling di area di depan penginapan sebelum jam 12 siang. Sesudah itu, kami akan kembali ke penginapan dan check out. Kami tidak akan langsung pulang setelah chcek out dari penginapan. kami berencana untuk melanjutkan acara jalan-jalan hari ini ke downtown. Baru sesudah itu kami akan pulang ke Bloomington. Jadi, kami hanya akan memindah barang dari kamar ke kendaraan, mengembalikan kunci/kartu penginapan, keluar dan berjalan-jalan menuju downtown dengan berjalan kaki (kendaraan diparkir di parking garage penginapan) dan kemudian kembali ke penginapan hanya untuk mengambil kendaraan. Kenapa kok kami tidak membawa kendaraan sekalian saja saat kami jalan-jalan ke downtown? Kata papa, kemungkinan mencari tempat parkir susah karena hari ini kegiatan bisnis sudah berjalan seperti biasa. Lagian, udara lumayan manis kok, jadi, akan asyik saja kalo kami berjalan-jalan dengan berjalan kaki hahaha ...